Berikut ini adalah penjelasan dr .tan shot yen , tentang kebohongan maaf susu , yang blm di ketahui khalayak ramai , benarkah susu sapi baik untuk kesehatan , benarkah susu sapi baik untuk tulang? atau malah sebalik nya . bahkan itu hanya sekedar bualan belaka , sebagai cpoywriting sebuah iklan produk susu? mari kita simak ulasan berikut ini .....
Dear dr Tan, aku gemar sekali membaca rubrik yg Dokter asuh. Jawaban dokter dari tiap-tiap pertanyaan amat tegas, lugas & cerdas.
Aku sempat dengar seminar dari salah seseorang ahli gizi manusia mesti mengkonsumsi susu sejak lahir sampai menutup mata (wafat) sedangkan menurut dokter Tan manusia cuma konsumsi susu sejak 0-2 th saja itupun cuma ASI.
Aku yg orang awam ini menjadi bingung Dok. Anak aku telah berusia 3 thn, apakah anak aku tetap butuh mengkonsumsi susu?
Aku harap Dokter berkenan utk menjawabnya.
Veni, Bekasi
——————————————
Jawaban :
dr. Tan Shot Yen :
agent togel online terpercaya
Hai Veni,Jikalau kamu mengikuti rubrik aku sungguh-sungguh & MEMBACA Seluruh Berita Berguna lewat jalur internet dgn situs-situs yg sanggup dipertanggungjawabkan layaknya sempat aku kutipkan pada awal mulanya, pasti kamu tak ingin bingung.
Kamu dapat terbiasa tanya,”Mengapa?” & “Mengapa?” lagi & kemudian jadi kritis dgn jawaban yg diberikan sebelum ‘menelan’ mentah-mentah jawaban dari siapa serta, pakar di bagian apa serta.
Letak permasalahannya bukan kepada perdebatan atau siapa yg salah & siapa yg benar. Bila pernyataan pakar (yg mampu salah sanggup benar) saja yg dijadikan pegangan, sehingga kepentingannya terletak justru kepada si pakar tersebut – & apa/siapa yg dibelanya, ada unsur keperluan apa di balik opini-opininya, pihak mana yg mendukungnya utk menyuarakan opininya itu.
Demikian serta dgn menghadapi seluruhnya paparan aku. Dikarenakan itu aku senantiasa sertakan bacaan atau sumber berita lain juga sebagai pembanding, kalau pembaca membutuhkannya buat menambah area pandangan pun menilai. Maka kepada hasilnya kita sama-sama paham, siapa yg diuntungkan atau sebenarnya warga diperlakukan juga sebagai maksud atau sekadar dijadikan media diam-diam demi kebutuhan yg sesungguhnya BUKAN buat setinggi-tingginya kesehatan manusia.
Dikarenakan itu, ilmu kesehatan amat sangat tak bisa jadi berdiri sendiri. Kita butuh merujuk terhadap antropologi, histori lifestyle & pola makan manusia, peristiwa keperluan tehnologi industri pangan ataupun kesehatan, & kembali lagi : apakah serasi buat kesejahteraan manusia yg optimal lahir-batin-mental-spiritual?
Aku tak sempat paham dgn argumen kenapa manusia mesti konsumsi susu sewaktu umur pertumbuhan yg bukan dari ASI, terlebih sepanjang hayat – seolah-olah bahasanya seperti yg tidak jarang dimanfaatkan di kalangan pergaulan anak gadis aku : “Nggak sesuai? Paksain ajaaaaaaa!!”
1. Kita butuh menuntut ilmu dari hewan menyusui. Bahwa susu cuma tepat yang merupakan “makanan antara”, saat bayinya belum mampu mengunyah & mencerna.
Demikian mampu tegak, berlangsung, mencari makan & sanggup mengunyah makanan padat, sehingga SUSU BUKAN LAGI Mengonsumsi ALAMIAHNYA. Aku tak menyamakan manusia bersama hewan menyusui, tetapi kita butuh menuntut ilmu dari alam, fakta & menyadari bermacam macam unsur permainan “kepentingan yg lain” di balik jargon kesehatan yg cuma diperlukan utk nilai menjual.
Faktanya, enzim pencernaan manusia buat mencerna susu pun telah mulai sejak berkurang kepada umur 2-3 thn.
Berbarengan bersama itu, gigi manusia pula Telah Lengkap di umur 2 thn. Aha! Serasi, bukan? Lepas dari susu, kunyah makanan padatnya!
2. Alam tak sediakan susu apa pula tidak hanya ASI buat mengkonsumsi manusia.
Susu sapi cuma utk generasi penerus sapi. Susunannya serta sama sekali tak tepat buat manusia.
Sekali lagi, komposisi susu sapi cuma buat menciptakan anak-anak sapi gemuk, bertulang agung, tak butuh pandai lebih-lebih menikmati usia panjang.
Susu sapi alami sama sekali tak sesuai utk manusia. Dikarenakan “dipaksakan” biar serasi, sehingga biar tak mengandung bakteri, manusia laksanakan sterilisasi susu antara lain bersama pasteurisasi – dampak sampingnya? seluruh zat gizi susu rusak keseluruhan (dikarenakan itu sesudah proses sterilisasi butuh diimbuhkan beragam zat dari luar agar nampak “bergizi”-proses pasca sterilisasi inilah menciptakan heboh ‘menyusup’nya bakteri sekian banyak disaat yg dulu).
Demikian serta supaya kolesterol susu sapi yg tinggi tak menciptakan manusia kegemukan & naik kolesterolnya, ditemukanlah teknik yg menciptakan susu sapi mendapat istilah ‘skim’, sebab minyaknya ditarik/diambil – dampak sampingnya? manusia terus gemuk.
Sebab bukan melulu kolesterol yg bermasalah, tetapi GULA SUSU (Laktosa) & KEASAMANNYA yg menciptakan tulang justru makin keropos.
Biar “cocok” pun buat keperluan kecerdasan anak manusia, sehingga pemaksaannya yaitu melalui jalur tehnologi.
Susu sapi yg miskin gizi itu ditambahkan zat-zat/asam amino yg diduga yang merupakan sektor dari kepentingan perkembangan saraf & otak.
Padahal, kecerdasan LEBIH DARI SEKADAR ASAM AMINO atau zat yg diimbuhkan tersebut. Kecerdasan anak berkenaan amat sangat erat bersama IMD (Inisiasi Menyusu Dini) ketika anak mengintegrasikan KECERDASAN PERTAMANYA dengan cara instinktual utk merayap menemukan puting susu ibu selepas dilahirkan sekaligus kegiatan merayap tersebut menyelesaikan & mengintegrasikan refleks-refleks primitifnya!
Kecerdasan terletak kepada antibodi prima MANUSIA yg alami, yg cuma terdapat dalam ASI sampai umur 2 th saja.
Kecerdasan pula berhubungan bersama pematangan “sambungan-sambungan system syaraf” dari 3 susunan otak manusia (reptilian brain yg primitif : cuma mengurus system pertahanan diri/survival, mamalian brain yg berfungsi mengenali cinta, rasa aman, peduli, kekeluargaan & neo-mamalian brain yg baru sesudah umur 6 thn mengenal istilah kiat pikir ‘rasional’.
Kecerdasan manusia bukan melulu menyangkut pandai berhitung & berbahasa asing, tetapi cerdas dengan cara emosional, spiritual. Maka yg menciptakan manusia maju & makmur bukan cuma mereka yg ber IQ (Intelligence Quotient) tinggi, tetapi pun ber EQ (Emotional Quotient) tinggi maka bisa menjalin rekan bisnis, juga ber SQ (Spiritual Quotient) membanggakan- maka sanggup bersyukur, berhubungan mesra dgn Penciptanya.
Kamu dapat terbiasa tanya,”Mengapa?” & “Mengapa?” lagi & kemudian jadi kritis dgn jawaban yg diberikan sebelum ‘menelan’ mentah-mentah jawaban dari siapa serta, pakar di bagian apa serta.
Letak permasalahannya bukan kepada perdebatan atau siapa yg salah & siapa yg benar. Bila pernyataan pakar (yg mampu salah sanggup benar) saja yg dijadikan pegangan, sehingga kepentingannya terletak justru kepada si pakar tersebut – & apa/siapa yg dibelanya, ada unsur keperluan apa di balik opini-opininya, pihak mana yg mendukungnya utk menyuarakan opininya itu.
Demikian serta dgn menghadapi seluruhnya paparan aku. Dikarenakan itu aku senantiasa sertakan bacaan atau sumber berita lain juga sebagai pembanding, kalau pembaca membutuhkannya buat menambah area pandangan pun menilai. Maka kepada hasilnya kita sama-sama paham, siapa yg diuntungkan atau sebenarnya warga diperlakukan juga sebagai maksud atau sekadar dijadikan media diam-diam demi kebutuhan yg sesungguhnya BUKAN buat setinggi-tingginya kesehatan manusia.
Dikarenakan itu, ilmu kesehatan amat sangat tak bisa jadi berdiri sendiri. Kita butuh merujuk terhadap antropologi, histori lifestyle & pola makan manusia, peristiwa keperluan tehnologi industri pangan ataupun kesehatan, & kembali lagi : apakah serasi buat kesejahteraan manusia yg optimal lahir-batin-mental-spiritual?
Aku tak sempat paham dgn argumen kenapa manusia mesti konsumsi susu sewaktu umur pertumbuhan yg bukan dari ASI, terlebih sepanjang hayat – seolah-olah bahasanya seperti yg tidak jarang dimanfaatkan di kalangan pergaulan anak gadis aku : “Nggak sesuai? Paksain ajaaaaaaa!!”
1. Kita butuh menuntut ilmu dari hewan menyusui. Bahwa susu cuma tepat yang merupakan “makanan antara”, saat bayinya belum mampu mengunyah & mencerna.
Demikian mampu tegak, berlangsung, mencari makan & sanggup mengunyah makanan padat, sehingga SUSU BUKAN LAGI Mengonsumsi ALAMIAHNYA. Aku tak menyamakan manusia bersama hewan menyusui, tetapi kita butuh menuntut ilmu dari alam, fakta & menyadari bermacam macam unsur permainan “kepentingan yg lain” di balik jargon kesehatan yg cuma diperlukan utk nilai menjual.
Faktanya, enzim pencernaan manusia buat mencerna susu pun telah mulai sejak berkurang kepada umur 2-3 thn.
Berbarengan bersama itu, gigi manusia pula Telah Lengkap di umur 2 thn. Aha! Serasi, bukan? Lepas dari susu, kunyah makanan padatnya!
2. Alam tak sediakan susu apa pula tidak hanya ASI buat mengkonsumsi manusia.
Susu sapi cuma utk generasi penerus sapi. Susunannya serta sama sekali tak tepat buat manusia.
Sekali lagi, komposisi susu sapi cuma buat menciptakan anak-anak sapi gemuk, bertulang agung, tak butuh pandai lebih-lebih menikmati usia panjang.
Susu sapi alami sama sekali tak sesuai utk manusia. Dikarenakan “dipaksakan” biar serasi, sehingga biar tak mengandung bakteri, manusia laksanakan sterilisasi susu antara lain bersama pasteurisasi – dampak sampingnya? seluruh zat gizi susu rusak keseluruhan (dikarenakan itu sesudah proses sterilisasi butuh diimbuhkan beragam zat dari luar agar nampak “bergizi”-proses pasca sterilisasi inilah menciptakan heboh ‘menyusup’nya bakteri sekian banyak disaat yg dulu).
Demikian serta supaya kolesterol susu sapi yg tinggi tak menciptakan manusia kegemukan & naik kolesterolnya, ditemukanlah teknik yg menciptakan susu sapi mendapat istilah ‘skim’, sebab minyaknya ditarik/diambil – dampak sampingnya? manusia terus gemuk.
Sebab bukan melulu kolesterol yg bermasalah, tetapi GULA SUSU (Laktosa) & KEASAMANNYA yg menciptakan tulang justru makin keropos.
Biar “cocok” pun buat keperluan kecerdasan anak manusia, sehingga pemaksaannya yaitu melalui jalur tehnologi.
Susu sapi yg miskin gizi itu ditambahkan zat-zat/asam amino yg diduga yang merupakan sektor dari kepentingan perkembangan saraf & otak.
Padahal, kecerdasan LEBIH DARI SEKADAR ASAM AMINO atau zat yg diimbuhkan tersebut. Kecerdasan anak berkenaan amat sangat erat bersama IMD (Inisiasi Menyusu Dini) ketika anak mengintegrasikan KECERDASAN PERTAMANYA dengan cara instinktual utk merayap menemukan puting susu ibu selepas dilahirkan sekaligus kegiatan merayap tersebut menyelesaikan & mengintegrasikan refleks-refleks primitifnya!
Kecerdasan terletak kepada antibodi prima MANUSIA yg alami, yg cuma terdapat dalam ASI sampai umur 2 th saja.
Kecerdasan pula berhubungan bersama pematangan “sambungan-sambungan system syaraf” dari 3 susunan otak manusia (reptilian brain yg primitif : cuma mengurus system pertahanan diri/survival, mamalian brain yg berfungsi mengenali cinta, rasa aman, peduli, kekeluargaan & neo-mamalian brain yg baru sesudah umur 6 thn mengenal istilah kiat pikir ‘rasional’.
Kecerdasan manusia bukan melulu menyangkut pandai berhitung & berbahasa asing, tetapi cerdas dengan cara emosional, spiritual. Maka yg menciptakan manusia maju & makmur bukan cuma mereka yg ber IQ (Intelligence Quotient) tinggi, tetapi pun ber EQ (Emotional Quotient) tinggi maka bisa menjalin rekan bisnis, juga ber SQ (Spiritual Quotient) membanggakan- maka sanggup bersyukur, berhubungan mesra dgn Penciptanya.
Mana ada anak sapi mampu begini?
3. Seandainya alasan bahwa susu diasup yang merupakan sumber kalsium (yg diakui menguatkan tulang), sehingga butuh ditegaskan kembali :
APAKAH Cuma SUSU SATU-SATUNYA SUMBER KALSIUM?
Aku mencurigai ‘nasehat-nasehat’ yg menganjurkan orang minum susu hasilnya sebatas dikarenakan penelitian yg teramat sepihak, amat kadaluwarsa bahkan, & celakanya : sebab ‘kepercayaan’ seri nutrisi jaman penjajahan Belanda yg masihlah berurat akar.
Tulang serta jadi kuat BUKAN SEMATA-MATA Cuma Dikarenakan KALSIUM. Melainkan kita butuh mengasup Magnesium, Seng (Zinc), Boron, Mangaan, Provitamin D-3, dll.
Nenek moyang kita sebelum mengenal pabrik susu tak sempat menderita patah tulang akibat keropos sebelum waktunya. kenapa? sekali lagi, mereka mengkonsumsi makanan ALAM yg DIKUNYAH, yg pun memperkuat tulang selepas susu ibu di atas 2 thn!
Aku sempat posting di tabloid ini serta, bahwa mengkonsumsi 1 cangkir selada bokor (iceberg lettuce) memberikan kebolehan tulang yg di hri lanjut usia, mencegah terjadinya patah tulang panggul!(sudah dirisetkan oleh para ahli dari Harvard University, Amerika Serikat yg melibatkan 72.000 perempuan).
Kalsium terhadap susu yg bukan ASI sekali lagi aku tegaskan, Tak DIKENAL oleh badan manusia. Oleh karenanya bersifat “Non-bio-available”- menjadi, bukannya menciptakan tulang lebih kuat, malah kalsium bakal ‘nyasar’ ke ruangan yg salah… & area yg lebih sering jadi sasaran pendaratan kalsium yakni.. dinding pembuluh darah!
Bukannya memperoleh manfaat positif dari susu, malah mendapat bonus penyakit yg amat tak menyenangkan : penebalan dinding pembuluh darah & segala akibatnya (layaknya sudah dipaparkan dalam salah satu jurnal kedokteran anak oleh Dr. Frank Oski, Upstate Medical Center Department of Pediatrics, USA). Orang Amerika & Eropa Utara konsumsi 800 mg – 1200 mg kalsium sehari, tetapi konsisten saja mereka lebih menderita osteoporosis/keropos tulang daripada orang Asia & Afrika yg konsumsi 300 mg – 500 mg kalsium per hri.
Kenapa? daging merah, gula, tepung & bahan makanan berupa bumbu non-alam menyebabkan keasaman darah meningkat.
Buat menetralisirnya, badan membawa kalsium (yg bersifat alkalis) dari tulang. Maka masalah osteoporosis bukanlah bahwa satu orang itu tak pass memakan kalsium.
Masalahnya yaitu mereka kehilangan kalsium. Bersama begitu, mengasup lebih tidak sedikit kalsium ke dalam badan bukanlah jawabannya, sebab Kamu dapat kehilangan lebih tidak sedikit daripada yg Kamu asup (contohnya dgn masihlah memakan daging merah, gula, terigu, beras, bermacam macam saus & kecap produksi pabrik, dll).
Bila ekstra kalsium yg dimakan berasal dari makanan yg mengandung protein tinggi seperti susu, keju & es krim, kondisi jadi lebih tidak baik lantaran makanan ini yakni pembentuk asam yg amat sangat tinggi. Badan makin kehilangan kalsium
APAKAH Cuma SUSU SATU-SATUNYA SUMBER KALSIUM?
Aku mencurigai ‘nasehat-nasehat’ yg menganjurkan orang minum susu hasilnya sebatas dikarenakan penelitian yg teramat sepihak, amat kadaluwarsa bahkan, & celakanya : sebab ‘kepercayaan’ seri nutrisi jaman penjajahan Belanda yg masihlah berurat akar.
Tulang serta jadi kuat BUKAN SEMATA-MATA Cuma Dikarenakan KALSIUM. Melainkan kita butuh mengasup Magnesium, Seng (Zinc), Boron, Mangaan, Provitamin D-3, dll.
Nenek moyang kita sebelum mengenal pabrik susu tak sempat menderita patah tulang akibat keropos sebelum waktunya. kenapa? sekali lagi, mereka mengkonsumsi makanan ALAM yg DIKUNYAH, yg pun memperkuat tulang selepas susu ibu di atas 2 thn!
Aku sempat posting di tabloid ini serta, bahwa mengkonsumsi 1 cangkir selada bokor (iceberg lettuce) memberikan kebolehan tulang yg di hri lanjut usia, mencegah terjadinya patah tulang panggul!(sudah dirisetkan oleh para ahli dari Harvard University, Amerika Serikat yg melibatkan 72.000 perempuan).
Kalsium terhadap susu yg bukan ASI sekali lagi aku tegaskan, Tak DIKENAL oleh badan manusia. Oleh karenanya bersifat “Non-bio-available”- menjadi, bukannya menciptakan tulang lebih kuat, malah kalsium bakal ‘nyasar’ ke ruangan yg salah… & area yg lebih sering jadi sasaran pendaratan kalsium yakni.. dinding pembuluh darah!
Bukannya memperoleh manfaat positif dari susu, malah mendapat bonus penyakit yg amat tak menyenangkan : penebalan dinding pembuluh darah & segala akibatnya (layaknya sudah dipaparkan dalam salah satu jurnal kedokteran anak oleh Dr. Frank Oski, Upstate Medical Center Department of Pediatrics, USA). Orang Amerika & Eropa Utara konsumsi 800 mg – 1200 mg kalsium sehari, tetapi konsisten saja mereka lebih menderita osteoporosis/keropos tulang daripada orang Asia & Afrika yg konsumsi 300 mg – 500 mg kalsium per hri.
Kenapa? daging merah, gula, tepung & bahan makanan berupa bumbu non-alam menyebabkan keasaman darah meningkat.
Buat menetralisirnya, badan membawa kalsium (yg bersifat alkalis) dari tulang. Maka masalah osteoporosis bukanlah bahwa satu orang itu tak pass memakan kalsium.
Masalahnya yaitu mereka kehilangan kalsium. Bersama begitu, mengasup lebih tidak sedikit kalsium ke dalam badan bukanlah jawabannya, sebab Kamu dapat kehilangan lebih tidak sedikit daripada yg Kamu asup (contohnya dgn masihlah memakan daging merah, gula, terigu, beras, bermacam macam saus & kecap produksi pabrik, dll).
Bila ekstra kalsium yg dimakan berasal dari makanan yg mengandung protein tinggi seperti susu, keju & es krim, kondisi jadi lebih tidak baik lantaran makanan ini yakni pembentuk asam yg amat sangat tinggi. Badan makin kehilangan kalsium
4. Dari hasil konvensi dunia (World Breastfeeding Week, 1-7 Agustus 2006), Elisabeth Sterken, BSc.MSc Nutritionist INFACT Canada/North America menuliskan bahwa susu bukan ASI menyebabkan : meningkatnya risiko asma, alergi, penurunan perkembangan kecerdasan, peningkatan risiko infeksi saluran napas atas, kekurangan nutrisi yg tak didapatkan dalam susu non ASI, risiko kanker periode anak, risiko penyakit kronik, risiko diabetes, risiko penyakit kardiovaskuler, risiko kegemukan, risiko infeksi pencernaan, risiko radang telinga, risiko seluruhnya resiko samping akibat Tambahan ZAT Yg Tak Mestinya DALAM SUSU BUBUK/CAIR (telah terbukti mulai sejak bakteri sampai melamin, bukan? tunggu saja ‘seri berikutnya’)
Kamu belum mengikuti pelatihan aku berkaitan “teknik membaca label makanan produksi pabrik”, bukan? Naaaaaahh!! ada baiknya kamu mulai sejak membalik kemasan susu anak kamu. Tidak Sedikit istilah “ajaib” yg menciptakan kamu mengerenyitkan dahi.
Seluruhnya susu telah mengandung laktosa/gula susu, seperti aku sebut diatas. Tapi agar “betah” di lidah anak yg doyan manis “tingkat tinggi” (yg utama doyan, kan?
Mana ada pabrik ingin peduli dgn masalah kelebihan karbohidrat tidak baik!) terus diimbuhi “sukrosa” (gula rantai panjang!) atau “corn syrup” (gula ‘pembunuh’ nomer satu di Amerika Serikat), belum lagi “perisa” (Apakah kamu paham betul istilah ini? Nama yang lain yakni rasa SINTETIS!), & susunya pula berasal dari “skimmed, powdered, milk”.
Bahkan susu cair pula lewat proses skim dulu. Kamu butuh serta sanggup terheran-heran, kenapa susu yg telah cair butuh dijadikan bubuk, dulu dibuat ‘cair’ lagi.
30-40 th yg dulu(diwaktu anak Indonesia mentah-mentah menolak susu lantaran tak doyan bau susu & mesti ‘dipaksa’ minum), label komposisi susu bubuk lumayan tercatat : WHOLE MILK. Titik.
Risiko whole milk pula menciptakan manusia terpaksa seperti sapi sungguhan : gemuk, bodoh, lamban, berumur pendek).
Mestinya para pakar yg benar-benar ingin menyuarakan mengenai susu, pada awal mulanya butuh mengikuti konvensi dunia mirip ini yg memang lah diselenggarakan bagi para pakar, pengayom kesehatan & info yg terupdate bagi masyarakatnya.
Konvensi ilmiah yg berkwalitas tinggi & kredibel pasti diselenggarakan tidak dengan sponsor pabrik technologi pangan atau farmasi yg memiliki keperluan di dalamnya!
5. Yang Merupakan penambahan, salah satu pilihan : kamu dapat mengakses website Dr. Mercola, http : //www.mercola.com, ketik “milk” (atau topik apa pula yg kamu mau ketahui) di kolom mesin pencari artikelnya. Kamu bakal berkelana ke ‘dunia baru’ & membaca bermacam macam elemen yg sudah diperjuangkan tidak sedikit orang ketika ini, sementara negeri kita tetap jadi ‘keranjang pembuangan’ bermacam product yg telah tak lagi di terima penduduk dari mana product itu berasal.
Aku amat sangat menyesalkan kepercayaan & mitos bakal susu ini merasuk di benak ibu-ibu yg hidup bersama ekonomi pas-pas-an, maka ada faham ‘asal anak telah minum susu, rasanya aman!’ – padahal gizi anak membutuhkan lebih.
Anak bergigi membutuhkan makanan buat dikunyah, dgn sumber karbohidrat-protein-dan lemak yg jauh lebih tinggi tingkatannya.
Bukan susu yg berasal dari sapi dgn pakan buatan manusia bernama MBM/Meat-Bone-Meal yg menyebabkan sapi mencetak protein asing bernama Prion sbg cikal dapat sapi gila/madcow (Tonton Nyata edisi II Agustus 08, edisi IV Mei 08)
Anak-anak kita bertulang & bergigi kuat sampai akhir hayatnya lantaran gaya hidup sehat, bukan minum susu segelas tiap tengah malam sambil terpana di depan tv atau game computer, yg lincah cuma ke-2 jempol tangan kanan-kirinya.
lifestyle sehat mengandalkan makanan alam lepas campur tangan industri, badan bergerak total main-main petak umpet, lompat tali atau layang-layang.
Sumber : Rubrik dr. Tan Shot Yen di tabloid Nyata.
Kamu belum mengikuti pelatihan aku berkaitan “teknik membaca label makanan produksi pabrik”, bukan? Naaaaaahh!! ada baiknya kamu mulai sejak membalik kemasan susu anak kamu. Tidak Sedikit istilah “ajaib” yg menciptakan kamu mengerenyitkan dahi.
Seluruhnya susu telah mengandung laktosa/gula susu, seperti aku sebut diatas. Tapi agar “betah” di lidah anak yg doyan manis “tingkat tinggi” (yg utama doyan, kan?
Mana ada pabrik ingin peduli dgn masalah kelebihan karbohidrat tidak baik!) terus diimbuhi “sukrosa” (gula rantai panjang!) atau “corn syrup” (gula ‘pembunuh’ nomer satu di Amerika Serikat), belum lagi “perisa” (Apakah kamu paham betul istilah ini? Nama yang lain yakni rasa SINTETIS!), & susunya pula berasal dari “skimmed, powdered, milk”.
Bahkan susu cair pula lewat proses skim dulu. Kamu butuh serta sanggup terheran-heran, kenapa susu yg telah cair butuh dijadikan bubuk, dulu dibuat ‘cair’ lagi.
30-40 th yg dulu(diwaktu anak Indonesia mentah-mentah menolak susu lantaran tak doyan bau susu & mesti ‘dipaksa’ minum), label komposisi susu bubuk lumayan tercatat : WHOLE MILK. Titik.
Risiko whole milk pula menciptakan manusia terpaksa seperti sapi sungguhan : gemuk, bodoh, lamban, berumur pendek).
Mestinya para pakar yg benar-benar ingin menyuarakan mengenai susu, pada awal mulanya butuh mengikuti konvensi dunia mirip ini yg memang lah diselenggarakan bagi para pakar, pengayom kesehatan & info yg terupdate bagi masyarakatnya.
Konvensi ilmiah yg berkwalitas tinggi & kredibel pasti diselenggarakan tidak dengan sponsor pabrik technologi pangan atau farmasi yg memiliki keperluan di dalamnya!
5. Yang Merupakan penambahan, salah satu pilihan : kamu dapat mengakses website Dr. Mercola, http : //www.mercola.com, ketik “milk” (atau topik apa pula yg kamu mau ketahui) di kolom mesin pencari artikelnya. Kamu bakal berkelana ke ‘dunia baru’ & membaca bermacam macam elemen yg sudah diperjuangkan tidak sedikit orang ketika ini, sementara negeri kita tetap jadi ‘keranjang pembuangan’ bermacam product yg telah tak lagi di terima penduduk dari mana product itu berasal.
Aku amat sangat menyesalkan kepercayaan & mitos bakal susu ini merasuk di benak ibu-ibu yg hidup bersama ekonomi pas-pas-an, maka ada faham ‘asal anak telah minum susu, rasanya aman!’ – padahal gizi anak membutuhkan lebih.
Anak bergigi membutuhkan makanan buat dikunyah, dgn sumber karbohidrat-protein-dan lemak yg jauh lebih tinggi tingkatannya.
Bukan susu yg berasal dari sapi dgn pakan buatan manusia bernama MBM/Meat-Bone-Meal yg menyebabkan sapi mencetak protein asing bernama Prion sbg cikal dapat sapi gila/madcow (Tonton Nyata edisi II Agustus 08, edisi IV Mei 08)
Anak-anak kita bertulang & bergigi kuat sampai akhir hayatnya lantaran gaya hidup sehat, bukan minum susu segelas tiap tengah malam sambil terpana di depan tv atau game computer, yg lincah cuma ke-2 jempol tangan kanan-kirinya.
lifestyle sehat mengandalkan makanan alam lepas campur tangan industri, badan bergerak total main-main petak umpet, lompat tali atau layang-layang.
Sumber : Rubrik dr. Tan Shot Yen di tabloid Nyata.




















.jpg)

.jpg)
.jpg)